KABARSULTRA.ID, KONAWEUTARA – Ketekunan, kesabaran, dan kemauan untuk terus belajar menjadi modal utama Ibnu Hajar dalam mengembangkan usaha pertanian di Desa Mowundo, Kecamatan Molawe, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara. Berawal dari memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam berbagai jenis sayuran, kini Ibnu berhasil memperluas usaha taninya dengan membudidayakan cabai merah di lahan seluas 1.500 meter persegi.
Perkembangan usaha pertanian Ibnu Hajar tersebut tidak terlepas dari keterlibatannya sebagai peserta Program Mandiri Pangan PT ANTAM (Persero) Tbk Unit Bisnis Pertambangan Nikel (UBPN) Konawe Utara. Melalui program pemberdayaan masyarakat ini, Ibnu memperoleh pendampingan dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan budidaya pertanian, sekaligus dukungan sarana produksi berupa cultivator yang membantu proses pengolahan lahan.

Kisah Ibnu menjadi gambaran bahwa pengembangan potensi pertanian lokal tidak hanya membutuhkan ketersediaan lahan, tetapi juga pengetahuan, akses terhadap sarana pendukung, serta ketekunan petani dalam menjalani setiap tahapan usaha.
Sebelum mengembangkan lahan yang lebih luas, Ibnu terlebih dahulu memanfaatkan pekarangan rumahnya untuk menanam beragam komoditas sayuran. Hasil budidaya tersebut tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarganya, tetapi juga dijual kepada masyarakat sekitar.
Sebuah bale-bale bambu yang berada di bawah rindangnya pepohonan dekat rumahnya menjadi tempat sederhana bagi warga untuk membeli sayuran segar. Pembelinya berasal dari berbagai kalangan, termasuk ibu rumah tangga dan pengelola usaha katering yang membutuhkan pasokan sayuran untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dari aktivitas sederhana tersebut, Ibnu mulai melihat peluang bahwa kegiatan bercocok tanam dapat dikembangkan menjadi usaha produktif yang memberikan nilai tambah bagi keluarga sekaligus memenuhi kebutuhan masyarakat.
Berbekal pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh melalui pendampingan Program Mandiri Pangan, ia kemudian memberanikan diri memperluas usaha budidayanya ke lahan yang lebih besar.

Di atas lahan dengan kontur cukup curam, sekitar 45 derajat, Ibnu mengembangkan tanaman cabai merah keriting varietas Laba F1 dan cabai merah besar. Ia menyiapkan sekitar 1.700 lubang tanam sebagai bagian dari upayanya meningkatkan kapasitas produksi.
Namun, perjalanan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Kondisi cuaca panas dan kemarau menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi. Dalam proses budidaya, sekitar 20 tanaman cabai mengalami kematian akibat kondisi cuaca tersebut.
Bagi Ibnu, tantangan itu merupakan bagian dari proses belajar yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan pertanian. Ia menyadari bahwa keberhasilan usaha tani bukan hanya ditentukan oleh hasil panen, tetapi juga oleh kemampuan petani memahami permasalahan dan memperbaiki teknik budidaya dari waktu ke waktu.
Sebelum mengikuti Program Mandiri Pangan, Ibnu pernah menanam cabai di lahan yang lebih luas. Akan tetapi, hasil yang diperoleh ketika itu belum optimal. Keterbatasan pengetahuan mengenai penanganan hama dan penyakit tanaman serta pemenuhan kebutuhan nutrisi menjadi kendala utama dalam mengembangkan budidayanya.
Melalui pendampingan program, ia mulai mempelajari teknik budidaya yang lebih baik, bertukar pengalaman dengan sesama peserta, dan menerapkan pengetahuan tersebut secara langsung di lahannya.
Pengalaman kegagalan pada masa lalu menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki proses penanaman berikutnya. Ia pun semakin memahami bahwa usaha pertanian memerlukan ketelitian, konsistensi, serta kesabaran dalam menghadapi berbagai kemungkinan di lapangan.
“Jangan langsung melihat dari hasil, jangan tanya hasil panennya, coba tanya prosesnya, mulai dari cabai yang gagal terkena hama dan lain-lain. Kebanyakan orang hanya melihat hasil akhirnya, padahal ada proses yang dilalui. Menurut saya, yang dibutuhkan itu ketekunan dan kesabaran, Mbak,” ungkap Ibnu kepada pendamping program.
Cultivator Bantu Efisiensi Pengolahan Lahan
Selain peningkatan kapasitas pengetahuan, dukungan sarana pertanian dari ANTAM turut memberikan manfaat nyata bagi aktivitas usaha tani Ibnu bersama kelompok taninya.
Salah satu dukungan tersebut berupa cultivator, yakni mesin pertanian yang digunakan untuk membantu mengolah dan menggemburkan tanah. Kehadiran alat ini menjadi penting, terutama karena lahan yang dikelola Ibnu memiliki kontur curam sehingga pengolahan secara manual membutuhkan tenaga, waktu, dan biaya yang cukup besar.
Ibnu menjelaskan, pengolahan lahan berukuran sekitar 50 x 30 meter yang sebelumnya membutuhkan waktu kurang lebih tujuh hingga sepuluh hari dengan cara mencangkul secara manual, kini dapat diselesaikan dalam sekitar dua hari menggunakan cultivator. Setelah itu, pekerjaan dilanjutkan dengan pembuatan bedengan.
“Kalau menggunakan tenaga manual, kami harus mencangkul dalam dan membutuhkan beberapa orang. Biayanya juga cukup besar karena harus membayar tenaga kerja harian. Setelah ada cultivator, pekerjaan menjadi lebih cepat dan tenaga yang dikeluarkan tidak sebanyak sebelumnya. Saya bisa mengerjakannya sendiri dengan bantuan mesin, sehingga biaya pengolahan lahan juga lebih ringan,” jelasnya.
Efisiensi tersebut memberikan ruang bagi Ibnu untuk mengelola lahannya secara lebih mandiri. Waktu dan tenaga yang sebelumnya banyak terserap untuk pengolahan tanah dapat dialihkan ke tahapan budidaya lainnya.
Setelah lahan selesai diolah, proses budidaya dilanjutkan dengan penggemburan tanah, pembuatan bedengan dan saluran drainase, pemupukan awal, serta pemasangan mulsa. Setiap tahapan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi lahan dan kebutuhan tanaman.
Kontur tanah yang curam menjadi tantangan tersendiri, terutama dalam mengatur bedengan, menjaga aliran air, dan memastikan tanaman memperoleh kebutuhan air yang cukup. Untuk mengatasi keterbatasan akses air di bagian atas lahan, Ibnu memanfaatkan sumber air sungai di dekat area pertanian dengan bantuan selang.
Upaya tersebut menunjukkan bahwa pengembangan usaha tani membutuhkan kemampuan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan. Dukungan sarana memang membantu meringankan pekerjaan, tetapi pengelolaan yang tepat dan kemauan untuk mencari solusi tetap menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan budidaya.
Empat Kali Panen Hasilkan 110 Kilogram Cabai
Kerja keras Ibnu mulai menunjukkan hasil yang terukur. Hingga panen keempat pada 20 Oktober 2026, budidaya cabai yang dikembangkannya telah menghasilkan total sekitar 110 kilogram dari empat kali panen.
Pada panen pertama, ia memperoleh sekitar 6 kilogram cabai. Hasil tersebut meningkat menjadi 25 kilogram pada panen kedua, kemudian mencapai 40 kilogram pada panen ketiga. Sementara itu, panen keempat menghasilkan sekitar 39 kilogram.
Sejak tahap pembukaan lahan hingga panen pertama, proses budidaya membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga bulan. Capaian tersebut menjadi perkembangan positif bagi Ibnu, terutama setelah sebelumnya menghadapi kendala dalam budidaya cabai.
Meski demikian, ia tidak menjadikan angka produksi semata sebagai ukuran keberhasilan. Pengalaman menghadapi tanaman yang terserang hama, perubahan cuaca, serta kebutuhan pengelolaan air membuatnya semakin memahami pentingnya evaluasi berkelanjutan dalam kegiatan pertanian.
Dari sisi pemasaran, hasil panen cabai Ibnu juga telah memiliki pembeli. Sebagian hasil produksi dipesan oleh usaha katering perusahaan di sekitar wilayah tersebut, sedangkan sisanya dipasarkan melalui pedagang dan pembeli yang datang secara langsung.
Pasar yang dijangkau bahkan mulai meluas hingga ke luar Desa Mowundo, termasuk wilayah Asera dan Lasolo. Hal ini menunjukkan adanya peluang bagi petani lokal untuk memperluas jangkauan pemasaran ketika mampu menyediakan produk yang dibutuhkan konsumen.
Informasi mengenai hasil panen yang dibagikan keluarganya melalui aplikasi WhatsApp turut membantu memperkenalkan produk kepada calon pembeli. Cara sederhana tersebut menjadi salah satu sarana promosi yang mempertemukan petani dengan konsumen tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pemasaran konvensional.
Menurut Ibnu, kebutuhan masyarakat terhadap cabai dan sayuran masih cukup besar, sementara kemampuan produsen lokal untuk memenuhi permintaan tersebut belum sepenuhnya mencukupi. Ia juga melihat kebutuhan rumah makan dan usaha kuliner di wilayah sekitar sebagai peluang yang dapat terus dikembangkan.
“Selama saya mengamati, kebutuhan konsumen masih lebih besar dibandingkan kemampuan produsen untuk memenuhinya. Saya optimistis, selama masyarakat mendapatkan edukasi pertanian dan mau belajar, peluang ini bisa dikembangkan,” tuturnya.
Potensi pasar tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa pertanian dapat menjadi salah satu sumber penghidupan yang menjanjikan bagi masyarakat apabila dikelola dengan pengetahuan, perencanaan, dan komitmen yang baik.
Berharap Mowundo Menjadi Sentra Pangan dan Sayuran
Ke depan, Ibnu berharap pendampingan melalui Program Mandiri Pangan dapat terus berlanjut agar semakin banyak masyarakat memperoleh kesempatan untuk belajar, meningkatkan keterampilan, dan mengembangkan usaha pertanian secara mandiri.
Ia memiliki cita-cita menjadikan Desa Mowundo sebagai salah satu sentra produksi pangan dan sayuran di Kecamatan Molawe. Menurutnya, potensi pertanian di desa tersebut masih dapat dikembangkan apabila masyarakat memiliki kemauan untuk memanfaatkan lahan yang tersedia dan terbuka terhadap pengetahuan baru.
Ibnu juga menyatakan kesediaannya untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan masyarakat lain yang ingin belajar bertani, termasuk mereka yang belum tergabung dalam Program Mandiri Pangan.
Baginya, semakin banyak masyarakat yang memiliki keterampilan bertani, semakin besar pula peluang untuk memperkuat ketersediaan pangan lokal dan mengembangkan kegiatan ekonomi produktif di tingkat desa.
Hasil panen yang diperolehnya saat ini bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan bagian dari proses panjang untuk terus belajar, memperbaiki teknik budidaya, meningkatkan produksi, dan memperluas manfaat usaha pertanian bagi lingkungan sekitar.
ANTAM Dorong Kemandirian dan Penguatan Kapasitas Petani
Southeast Sulawesi Region, CSR ER Sub Division Head PT ANTAM Tbk, Muhammad Rusdan, menyampaikan apresiasi atas upaya Ibnu Hajar bersama kelompok taninya dalam mengembangkan usaha pertanian melalui ketekunan dan kemauan untuk terus belajar.
Menurut Rusdan, keberhasilan program pemberdayaan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh dukungan sarana dan prasarana, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat dalam mengembangkan pengetahuan, mengelola potensi lokal, serta mengambil peran aktif dalam meningkatkan kesejahteraan secara mandiri.
“ANTAM hadir sebagai pendukung melalui penyediaan sarana dan pendampingan, sementara masyarakat menjadi pelaku utama dalam mengembangkan usahanya. Kami berharap semangat Pak Ibnu dapat menginspirasi masyarakat lainnya untuk terus belajar, mengembangkan potensi pertanian, dan membangun kemandirian,” ujar Muhammad Rusdan.
Ia menambahkan, ANTAM berkomitmen untuk terus mendukung penguatan kapasitas petani dan kelompok tani melalui pendampingan berkelanjutan. Dengan demikian, manfaat Program Mandiri Pangan diharapkan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat dan mendorong pengembangan potensi pertanian lokal secara produktif.
“Kami berharap Desa Mowundo dapat berkembang menjadi salah satu sentra pangan dan sayuran di Kecamatan Molawe. Lebih dari itu, kami ingin masyarakat semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan serta mampu mengembangkan potensi pertanian lokal secara produktif dan berkelanjutan,” tutupnya.
Melalui Program Mandiri Pangan, ANTAM mendukung upaya masyarakat dalam memanfaatkan potensi pertanian, mulai dari pekarangan rumah hingga lahan yang lebih luas. Dukungan berupa pendampingan dan sarana produksi menjadi bagian dari upaya membuka peluang bagi petani untuk meningkatkan kapasitas usahanya.
Pengalaman Ibnu Hajar memperlihatkan bahwa pengembangan pertanian tidak selalu harus dimulai dari lahan yang luas atau modal yang besar. Langkah sederhana, seperti menanam sayuran di pekarangan rumah, dapat menjadi titik awal bagi tumbuhnya usaha produktif ketika disertai kemauan belajar, ketekunan, serta dukungan yang tepat.
Dari pekarangan rumah hingga lahan cabai seluas 1.500 meter persegi, perjalanan Ibnu menjadi contoh bahwa kemandirian pangan dapat dibangun secara bertahap. Dengan terus memperbaiki teknik budidaya, memperluas akses pasar, dan berbagi pengetahuan, potensi pertanian Desa Mowundo diharapkan semakin berkembang serta memberikan manfaat ekonomi dan sosial yang lebih luas bagi masyarakat Konawe Utara. (Red)








